Testimoni tas ‘Lomaro’ dari Kamengski @kamengski_stuff

Selamat tahun baru!!

Semoga di tahun ini aku lebih sering posting! :p Haha udah ketauan ya ga ngepost selama 3 bulan lebih. Sebenarnya banyak sih yang harus kuposting, mulai dari pengalaman KKN 2017, percobaan masuk ke suatu komunitas Hip, buku-buku baru, kunjungan ke tempat baru, dll. Tapi semua hal tersebut ga bisa dituangkan ke dalam bentuk postingan blog dengan mudah. Maklum, aku ini tipe orang yang lebih suka membaca daripada menulis.

Nah kali ini, aku akan cerita pengalaman belanja di @kamengski_stuff. Awalnya aku tahu nama Kamengski dari majalah provoke!.  Majalah ini cuma mengulas sedikit karya Kamengski, menurutku (art-nya yang dimuat di majalah itu) unik dan menghibur. Khasnya adalah membuat ulang (remake) logo/ brand yang sudah terkenal menjadi nyeleneh dalam cara yang humoris. Setidaknya bikin mindblown hingga nyengir2 sendiri. Setelah aku stalk ig-nya, Kamengski memproduksi t-shirt yang dikolaborasikan dengan band-band lokal. Sekarang merchandise kamengski udah ga cuma kaos lagi. Ada ransel, tas kamera, waistbag, kemeja, jaket, hingga jam tangan.

Yah aku ga mau cerita banyak2 mengenai Kamengski sih, kalau kalian ingin memperdalam art-nya silahkan cek Ig @kamengski yah

Baru kemarin (tanggal 26 februari) aku beli backpack ‘Lomaro’. Ransel minimalis dari  kanvas berbentuk kotak dengan 2 handle (yang lagi ngetren semenjak ada tas Kanken dan Anello). Ini juga karena kebetulan aku butuh tas ukuran medium dan ada promo free ongkirnya hehe.

Nah, kalau kalian ingin serius pesen merch Kamengski, inget ya akun OA linenya adalah @kamengski , Setelah akunnya di-add, nanti akan ada welcome message otomatis. Aku sarankan kalian langsung isi format orderannya supaya pesanan cepat diproses. Agak percuma kalau nanya2 detail barang di OA line. Katanya sih, info barang udah lengkap di bagian caption, tapi kalo nanya2 dikit ga apa apa kan?

Oh iya, meskipun pesen di akun resmi, kita musti tetep teliti ya gais

*BLEP* sehari kemudian, tas Lomaro sudah sampai di rumah yaaay~ Karena ini bukan barang pecah belah, aku ga berkspektasi tinggi2 mengenai packingnya. Tasnya dimasukkin (tanpa dilipat) ke plastik abu besar terus direkatkan dengan duct tape Kamengski.

Saat dibuka, tasnya masih wangi pabrik dan ada beberapa benang sisa yang menempel.

Ada juga benang yang lupa digunting. Ga jadi masalah sih.

Bagian depan dan belakang tas sudah dilapisi busa, kain kanvasnya cukup tebal untuk melindungi barang bawaan pada saat hujan-hujanan sambil gerimis.

Bagian dalemnya standar, dilapisi kain parasut warna item dan ada slip laptop (sudah diisi busa) yang ditempeli logo Kamengski.

Sedangkan bagian shoulder strapsnya terbuat dari kain kanvas yang sama tanpa diisi busa. Adjusternya terbuat dari besi.

Setelah diukur dengan meteran kain, ukuran tas ini adalah 36 x 26 x 11 cm. Cukup untuk kuliah. Sedangkan laptop casenya memiliki panjang 24 cm. Meskipun di captionnya menyatakan ‘compatible for laptop 13″ ‘ tas ini muat kok untuk membawa laptop Dell inspiron 1440 (lebar layarnya 15″), tapi ga masuk ke slip laptopnya ya, melainkan ke bagian utama tasnya.

Di bagian depan tas, terdapat 3 pocket kecil untuk menaruh barang yang sering keluar masuk. Dua Pocket kecil yang menonjol aku isi dengan kartu perpustakaan dan uang receh. Pocket luar yang tengah aku isi dengan benda yang agak panjang, misalnya kacamata dan pulpen

Oh iya, setelah aku riset kecil-kecilan, 2 handle yang ditempel di luar ini dipercaya bisa mengurangi bobot tas.

Nah kira-kira begini deh isi tasku. Bindernya sudah diisi penuh, tapi masih ada space untuk bawa 2 textbook. Yang aku sukai dari tas ini adalah ukurannya tipis,  sehingga aku ga boleh ribet bawa barang2 yang ga perlu. Terus tas ini juga ga akan mengganggu penumpang bus lain. Maksudnya, kalau bus damri sedang penuh-penuhnya dan aku ga kebagian tempat duduk, tas ini ga akan ngehalangi  koridor bus, dan aku bisa bergerak lebih leluasa karena volume tasnya ga terlalu besar.

c_scalefl_progressiveq_80w_800

Image credit: Jim Cookie in A Public Service Announcement About Your Backpack from Gawker.com

Yah sekian deh reviewnya. Agak heran sih kenapa tas sederhana ini harganya nyaris 300 ribu. Mungkin tas ini juga bisa jadi pilihan alternatif buat kalian yang pengen tas tumblr aesthetic itu..

 

Tags: tas lomaro, lomaro, kamengski, tas tollow, Tollow, alternatif Kanken

Advertisements

Proses Pembuatan Paspor

Hej! Postingan kali ini topiknya beda dengan yang sebelum-sebelumnya. Ga berkaitan dengan perpus maupun craft. Hari ini aku bakal cerita pengalaman membuat paspor! Buat apa sih bikin paspor? Yah buat ke luar negeri lah wkwk. Ga usah khawatir kalau belum punya budget ke luar negeri, yang penying bikin paspor aja dulu. Tiket kan bisa dibeli kapan aja. Kalo paspor, sebaiknya kita cepet-cepet bikin. Siapa tahu ada undangan studi banding ke luar negeri ayau diajak sama bos di tempat magang.

Prosesnya itu lebih mudah dan sederhana di luar dugaanku. Mungkin kalian udah bacabaca di blog lain, kalau ngambil nomor antriannya harus dari subuh. Sekarang ga usah kaya gitu. Dinas imigrasi udah menyediakan app buat ngambil nomor antrian. Nama appnya adalah (*4 not doraemon*): antrian pembuatan paspor. Tersedia di playstore maupun appstore.

Continue reading “Proses Pembuatan Paspor”

Review Pulpen Rotring bekas yang dibeli di Bukalapak

Halla! Akhir-akhir ini reviewnya didadak:( waarom? karena tiap review, aku selalu menulisnya dulu di buku agenda, kemudian pengetikan, lalu editing, yang terakhir baru post deh! Review ini aku tulis menggunakan Rotring Isograph 0.8 lho! Padahal kan pulpen ini buat menggambar ya, bukan nulis hehe.

Buat yang suka gambar pake bolpoin atau drawing pen, pasti paham kan rasanya kalo tinta udah macet, ujung pena tenggelem, dsb. Nah karena alasan itulah aku beli drawing pen yang bisa direfill! Eh tapi drawing pen manusia salju kan emang bisa direfill? Ah, aku udah pernah nyoba metode refill yang dari internet itu lho, mungkin kalian juga udah baca. Hasilnya, tintanya itu malah keluar di pinggir-pinggir tip pen. Bukan di ujungnya. Atau mungkin aku ngisinya ga bener ya, tintanya dijejelin secara berlebih. Wallahuallam lah ya.

Continue reading “Review Pulpen Rotring bekas yang dibeli di Bukalapak”

Something dumb happened after I use Vital ear oil

Oke, cerita awalnya aku butuh obat ini karena kebodohanku atau emang takdir lah wallahualam. Aku korek2 kuping aku, tapi bukannya wax itu malah keangkat malahan kedorong ke dalem-,- padahal kotorannya ga seberapa lho, cuma tipis2 aja lah kalian tau kaya gimana. Dan setelah itu rasanya ga enak banget kalau mendengar cuma pakai 1 telinga aja. Suara yang dateng dari sebelah kiri aku serasa jauh. Aku jadi harus meminta orang lain untuk mengulang2 perkataannya. Kan jadi ga enak-,- mana bentar lagi aku presentasi nih huuuaaaaaa pengen nangis rasanya:(

Continue reading “Something dumb happened after I use Vital ear oil”

Pustakalana Book Club bersama Nazura Gulfira

Catatan [Pustakalana Books Club] dari Kak @saskiasalmana selaku host acara.

Acara bulanan ini digagas untuk bisa menjadi ajang sharing bagi para pecinta buku, utk bertukar pemikiran, dan tentunya berbagi energi positif. Kali ini PBC mengundang @nazuragulfira selaku writer dan blogger, yang kerap menginspirasi generasi millennial (dan generasi denial #menolaktua juga) dengan tulisan di kedua bukunya dan blog post-nya.

Di usia yang masih sangat muda, Ozu, begitu ia biasa dipanggil, masih bisa mengatur waktu dengan sangat baik antara akademis (program doktoral!) dan tetap aktif menulis serta traveling. Di luar prestasinya yang sangat gemilang Kak Ozu sangat ramah dan humble, bahkan ketika menceritakan buku yang ia bawa mengenai kebahagiaan, Kak Ozu memilih buku Daring Greatly (Brene Brown) sebuah buku yang mengajarkan bahwa menerima kelemahan diri sendiri adalah hal yang bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan yg sesungguhnya.

Selain itu banyak sekali cerita seru dari buku-buku yang dibawa oleh para peserta PBC…

View original post 160 more words

A Trip to Omuniuum: A Shop For Reading an Listening

Honsetly, my latest visit to this place was almost 2 years ago. There maybe changes or variations occur, but I believe this store is still awesome.

Well as you see the title, Omuniuum is a shop for reading and listening. But I think it’s more than that. Because this store also sells sketchbook, POSTCARDS (yeaay), t-shirt, tote bag, toys (not sure if it’s diecast), and many more. Most of the t-shirts are merch from local bands. Sometimes, this store also sell concert tickets, by local bands of course.

Continue reading “A Trip to Omuniuum: A Shop For Reading an Listening”

A Trip to Pustakalana: the little hidden place full of treasure

After many weeks passed (actually it’s MONTHS lol), I can take my breath from tasks and assignments. I could sleep normally, even longer than usual. Haha. Thankss to the lecturers at uni, who always  help me by giving easy ttasks and replace final exams with easier things to do at home.

Since I have extra time to do leisure activities, I have to go out more too! Recently I visited Pustakalana, a children library in Bandung. It was 8.1 km away from home, the journey took more than 40 minutes. It was worth it.

As I said before, Pustakalana is a children library. So, its collection was books with kidlit genre (mostly). Picture books, small toys, a few of them are novels for middle aged person, and reference books (about paintings and american literature). Kidlit is my favorite book genre. Found a library that collects kidlit books is like heaven to me! I feel like I found a match for life haha! Ok, that’s overreacting….

Not only books, Pustakalana also held some activities which is good for children and their parents (who already become a member). For example, Mother Goose Club, the staff will teach the children how to sing nursery rhymes. Thus, Parents Club, the staff and group of parents will discuss how to take care of their children. There are 3-4 clubs in total. Exclude other activities that collab’ with local communities.

Continue reading “A Trip to Pustakalana: the little hidden place full of treasure”

A Trip to Big Bad Wolf Jakarta 2017

Tja! I have been in hiatus for a while ago. I thought reading my old books would cure my books addiction. But it didn’t.

Ah right, if you’re a bookstagrammers or bibliophile (especially in Asia) you already know the Big Bad Wolf Bookfair ? Finally after I skipped that event twice, I could join that event yeayyy cheers!

What is Big Bad Wolf Bookfair ? And why is it so special among the other bookfairs? It’s because the books that being provided are imported books! And the price is very very pricey. For example, the Aristotele and Dante Discover The Secret of The Universe, its normal price was Rp 165-198 thousand. But its price in this bookfair was Rp 65 thousand only! This event also provide various genres, from boardbooks to reference books, so everyone may join this event!

Gosh, as a person who was book-obsessed I have been waiting for this! My family and I were departed at 7.00 from home. Arrived in jakarta at 9 sharp. Unfortunately, the book Fair was held at Tangerang, an elite city used to be a part of Jakarta province. The journey was really smooth, until …

We were family of 5 (plus my grandmother, so it’ll make 6 of us). No one likes books in my family. Only me. Before we arrive there was a quite big debate,which place is gonna be visited first. My mother and my sisters have no interest in books, so do my grandma also my father (he only read religious books). And the other problem, tangerang is more far from Jakarta (about 20 km or more). Since the book Fair was open 24/7, and Thamrin city (a clothing market we wanted to visit) wasn’t open all the time,we were agreed to visit Thamrin city first, park our car there,and then go to big bad wolf book Fair by taking public transportation.

Powerless, I agreed. I thought my father knew the way to the location. BUT HE DOESN’T. At least he knew the public transports.

From the thamrin city, we (my father and me) were taking a bajaj (if you haven’t know bajaj, better check it out) to the Tanah Abang Station. Honestly, it was not that far. Less than 3 km I think. But,  the number of cars and motors on the road is so fckn crazy. The total time used to reach the station was 1 HOUR. The bajaj driver encourage us to walk, after 1 hour passed. And then we walked about 500 m to the station.

People are everywhere. I realized that there was a market in front of the station. I questioned, where are these people came from? Why are they here? Leaving their hometown for a smug city…

And then, we reached the train station, wasn’t too long to wait the commuter train. So much comfortable here. For about 30 minutes, we reached the Serpong station. A blog said, we must cross the road and take an angkot (the blue one), and then get off in front of the ITC junction (?) I’m not really sure. Luckily, we asked a passenger and he said “if you want to go to that bookfair, better take an ojek. No public transportation will take you exactly in front of the place.” 

He was right. AND THE PRICE OF A NON-ONLINE OJEK IS SO EXPENSIVE GOSH. In Bandung, Rp 35 thousand will take you to Jatinangor. The ojek even didn’t loan us a fckn helmet!

We arrived at 13.30, I did skipped the lunch for the sake of joining this event. We entered hall 10 of ICE BSD convention center.

How was the bookfair? My my, I wish I was more healthy at that time.IT WAS SO HUGE. Haven’t start the hunting yet, I felt bellyache also tension in both of my feet.

Oh almost forgot, there are more than 5 rows of tables with books on top. A row contain at least 1-2 genres. Since it was the 4th day of the fair, some of the genres are already sold out especially boardbook, soundbooks, pop up books. And the piles weren’t really neat.

I only have 2 hours maximum to observe and pick any books that I like, I really want to explore more but no energy and time T_T. I only buy 5 books, and a box of postcards. Since I’m afraid I’ll not finished them all.  

*picture above: the queue  to the cash registers at 2 pm

So sad, the bookfair didn’t provide what I was looking for… we left at 3 pm. Took a cab to the Rawa Mangu station, and arrived to tanah abang. Left jakarta at 6 pm. Traffic is everywhere. 

Arrived in Bandung at 9.30 pm…

I’ll post the #bbwstash and the hunting results later. If you have any request or suggestion of what should I post next, feel free to comment below! See ya